Hari libur datang juga, aku dan keluargaku merencanakan untuk berwisata ke telaga Sarangan yang terletak di kaki gunung Lawu, di kec. Plaosan, Kab. Magetan, berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Aku berangkat dari Surabaya sekitar jam 7an, sayang ga’ semua anggota keluargaku ikut. Kedua adekku yang kembar lagi sibuk sama lomba Dai di sekolahnya jadi partisipan pada acara kali ini hanya ber 4 aja, aku, mama, papa dan adekku yang paling kecil.
Setelah menempuh perjalanan ± 5 jam kami sampai juga di telaga Sarangan. Telaga Sarangan atau disebut juga telaga pasir memiliki luas sekitar 30 hektar dan berkedalaman 28 meter, dengan suhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius. Kedatanganku di telaga Sarangan disambut dengan hujan lebat, wuih dingin bangedh rasanya. Berhubung belum makan dan tuntutan perut yang keroncongan kami langsung menuju warung lesehan di pinggir telaga Sarangan untuk menikmati hidangan khas telaga Sarangan yaitu Sate Kelinci. Untuk satu porsi sate kelinci isi 10 tusuk + lontong dihargai Rp. 7000,-. Tidak puas hanya dengan sate kelinci aku juga memesan wedang ronde sebagai penghangat sambil menunggu sate kelincinya di bakar. Di telaga Sarangan ini ada banyak makanan yang bisa dicicipi mulai dari sate kelinci, wedang ronde, bakso, jagung rebus, jagung bakar, kacang rebus, kikil sapi, bahkan ada juga yang jualan burger, belum lagi banyhak warung nasi bertebaran dimana-mana. Pokoke masalah konsumsi pasti teratasi.
Setelah hujan reda dan perut kenyang kami sekeluarga langsung menuju hotel untuk beristirahat. Sore harinya aku memilih untuk berjalan-jalan disekitar telaga Sarangan. Di sini terdapat banyak sekali cinderamata dan oleh-oleh khas dari telaga Sarangan. Ada tas, kaos dan juga kerajinan tangan lain hasil karya masayarakat sekitar. Ada juga bunga, buah-buahan seperti alpukat, jeruk dan bahkan sayur-sayuran hasil dari perkebunan setempat.
Selain berbelanja ria aku juga sempat menyewa speed boat untuk mengelilingi telaga Sarangan, cukup dengan Rp.40.000,- kita bisa menikmati indahnya telaga Sarangan. Bila tidak suka mengelilingi telaga Sarangan dengan speed boat bisa juga dengan menggunakan perahu angsa, asik neh buat yang lagi pacaran, biar tambah mesra he5x, atau naik kuda keliling telaga Sarangan.
Malampun telah tiba. Saatnya untuk istirahat dan mempersiapkan fisik buat besok, rencananya mau jalan-jalan ke air terjun Tirtosari …
Minggu pagi 14 Februari 2010, ketika semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut hari Valentine dan tahun baru cina (Imlek) aku mempersiapkan diri untuk berwisata alam dengan sahabat-sahabatku. Kali ini tujuan perjalananku dan teman-temanku adalah permandian air panas Cangar yang terletak di desa Tulungrejo, kec. Bumiaji, Kota Batu.
Jarum jam menunjukkan pukul 06:30 waktunya untuk berangkat. Setelah menjemput salah satu teman aku melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo, rute yang aku ambil adalah Surabaya-Sidoarjo-Krian-Mojosari-Pacet-Cangar. Rute ini jauh lebih dekat dari pada harus melewati Batu .
Perjalanan cukup menyenangkan, udara yang sejuk khas pegunungan ditambah dengan hijaunya alam membuat aku semakin bersemangat untuk segera sampai ke Cangar. Perjalanan mulai terasa berat ketika melalui Pacet menuju ke Cangar. Rute ini sangat ekstrim lebih menantang dari pada rute ke pantai Sundak, Yogyakarata beberapa waktu yang lalu. Rute ini penuh dengan tanjakan lurus, hal ini membuat motor kesayanganku sampai harus berhenti ditengah jalan karena sudah mulai panas.
Kira-kira 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai ke permandian air panas Cangar, tiket masuknya untuk 2 orang Rp. 7000,- udara yang sejuk membuat aku lupa akan rasa capekku selama perjalanan. Kami langsung saja menjelajahi permandian air panas ini, di sini terdapat kolam renang air hangat, sayangnya temanku ga’ bawa baju ganti sehingga aku mengurungkan niat untuk berenang ria. Aku melanjutkan penjelajahan kami dengan memasuki gua Jepang yang terletak tak jauh dari lokasi permandian air panas.Goa Jepang disini hanyalah berupa lubang di dinding tebing sedalam kira2 20 meter. Jadi sama sekali ga’ menarik. Apalagi lantainya penuh batu-batu besar yang bikin susah lewat, dan ga’ ada cahaya sama sekali. Jadi kalau mau masuk kesana, sebaiknya bawa senter atau penerangan lainnya. Cahaya dari luar paling hanya mampu menerangi sampai 3 meter dari pintu Goa.
Setelah puas berjalan-jalan aku dan teman-temanku bermain air di sungai kecil samping kolam renang. Walaupun ga’ sempet renang tapi tetep bisa ngerasain hangatnya air pemandian yang berasal dari mata air gunung Arjuno. Setelah puas aku dan teman-temanku mencicipi jajanan disana yaitu tape ketan hitam dan badrek. Badrek adalah air ketan hitam 1 liternya dijual seharga Rp. 5000,- tapi bisa dapet lebih murah kalo bisa nawar he5x
Sekitar 13.00 aku dan teman-temanku pulang tak lupa berfoto ria di jembatan dekat Cangar. Perjalanan belum berakhir, aku dan teman-temanku berhunting duren-ria di Sidoarjo, selain makan di tempat tak lupa juga kita membeli beberapa buah untuk keluarga tercinta,. Setelah melewati hadangan hujan lebat sepanjang Sidoarjo-Surabaya akhirnya sampai dirumah juga. Capek sih tapi tetap semangat langsung mendukung PERSEBAYA vs PERSIB, puji Tuhan persebaya menang 2-1, tidur nyenyak dan mimpi indah …
Pantai Ngliyep Merupakan salah satu obyek wisata yang ada di kotaMalang. Lokasi Pantai Ngliyep terletak di tepi Samudera Indonesia, yang tepatnya di desa Kedungsalam kecamatan Donomulyo, sekitar 62 km di arah selatan kotaMalang. Pantai ini bisa dicapai melalui Kepanjen, Sumbermanjing Kulon atau melalui Karangkates dan Donomulyo. Dari ke empat jalan itu, untuk mencapai Pantai Ngliyep jalan yang paling mudah yaitu melalui Donomulyo ataupun Kepanjen. Kondisi fisik pantai ngliyep yaitu masih merupakan perpaduan antara tebing curam yang masih dengan hutan lindung dan hamparan pasir putih di sela-selanya, serta deburan ombak yang setiap saat menerpa tebing-tebing terjal di tepian. Sehingga menambah suasana menjadi marak.
Saya awali perjalan saya ke pantai ini dari kotaMalang, melewati Kepanjen, dan singgah sebentar di Sumbermanjing Kulon rumah salah satu kawan. Suasana selama perjalanan cukup menyenangkan karena melewati gunung Kombang dan hutan-hutan kecil, cuaca yang cukup cerah menambah kenyamanan dalam perjalanan ini. Setelah melepas lelah saya melanjutkan perjalanan saya ke pantai Ngliyep, kurang lebih 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pantai ini. Sesampainya di pantai hamparan luas pasir serta angin yang sepoi-sepoi menggugah semangat untuk menjelajahi pantai ini. Di mulai dari berjalan di pinggir pantai, bermain air laut dan juga berfoto-foto ria. Di sebelah timur pantai Ngliyep terdapat hamparan pasir yang panjangnya ± 200 m sedangkan disebelah barat terdapat sebuah pura yang sayangnya tidak sempat saya jelajahi karena terbatasnya waktu.
Pantai Ngliyep termasuk pantai yang masih ‘perawan’ atau dengan kata lain masih belum terlalu terjamah oleh tangan-tangan manusia. Masih banyak yang harus diperbaiki baik secara infrasturktur maupun pengelolaan secara professional sehingga pantai ini bisa menjadi salah satu obyek wisata unggulan sehingga dapat menambah pemasukan daerah kabupaten kotamalang. Beberapa hal yang harus diperbaiki antara lain :
1. kurangnya air bersih pada obyek wisata pantai Ngliyep, untuk saat ini dan jangka panjang masih bisa rnengandalkan sumber air tawar yaug berada diluar obyek wisata.
2. kurangnya kebutuhan listrik di obyek wisata pantai Ngliyep, saat ini belum dapat disediakan oleh PLN. Untuk sementara hanya dapat dipenuhi dengan rnenggunakan genset (generator)
3. tidak adanya transportasi umum dari kotamalang menuju langsung ke lokasi, kondisi jalan menuju pantai Ngliyep juga perlu dilakukan adanya perbaikan.
4. kurangnya pepohonan di area pantai karena kondisi pantai yang cukup gersang.
5. tidak adanya tempat ibadah dan daerah untuk lokasi perkemahan
Sore telah tiba saatnya untuk pulang, target selanjutnya pantai Balekambang dan permandian air panas Cangar, tinggal menunggu tanggal keberangkatan …
Pantai Sundak terletak di desa Sidoharjo, kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai sundak terletak di gugusan pantai yang berjejer di selatan pulau Jawa, bisa dibilang pantai Sundak ini merupakan salah satu pantai yang alami, belum terlalu banyak mendapatkan jamahan dari tangan-tangan manusia. Nuansa damai, pasir yang putih dan juga pemandangan yang eksotis merupakan daya tarik dari pantai ini. Jauhnya perjalanan yang ditempuh serasa terbayar lunas dengan keindahan yang ditampilkan.
Pantai Sundak relatif sepi, bahkan ketika aku berkunjung pada pergantian tahun yang lalu suasana di pantai ini tidak terlalu ramai, sungguh menyenangkan serasa memiliki pantai pribadi. Disebelah utara terlihat bukit batu karang dan batu kapur sekitar 12 meter panjangnya. Berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai merupakan hal wajib yang aku lakukan bila berkunjung ke pantai, bahkan disepanjang bibir pantai aku bisa menemukan bulu babi dan juga bintang laut diantara batu-batu karang. Angin yang berhembus sepoi-sepoi dan banyaknya pepohonan semakin menambah indah suasana, benar-benar menyejukkan hati. Pantai Sundak juga menawarkan suasana malam yang menyenangkan. Aku bisa menikmati angin malam dan bulan sambil becengkrama dengan teman-temanku. Pengunjung lain ada yang memesan ikan mentah untuk dibakar beramai-ramai. Ketika malam menjelang hal yang paling meyenangkan adalah ketika aku tidur dipantai sambil meyaksikan bintang di langit, sungguh betapa besar keagungan Tuhan, menikmati suasana malam sambil mengintrospeksi diri. Kegelapan tak perlu diributkan, bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?
Dibalik keindahannya pantai Sundak menyimpan kisah yang menarik, nama pantai ini telah beberapa kali berganti dan bukti-buktinya dapat dilacak secara geologis. Di bagian pinggir barat pantai terdapat masjid dan ruang kosong yang sekarang dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur terdapat gua yang terbentuk dari batu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapatkan air tawar. Wilayah yang diuraikan ini sebelum tahun 1930 masih terendam lautan. Konon, air sampai ke wilayah yang kini dibangun masjid, batu karang yang membentuk gua pun masih terendam air. Seiring proses geologi di pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut. Batu karang dan wilayah di dekat masjid akhirnya menjadi daratan baru yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk aktivitas ekonominya hingga saat ini.
Ada fenomena alam unik akibat aktivitas tersebut yang akhirnya menjadi titik tolak penamaan pantai ini. Jika musim hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk bentukan seperti sungai. Air yang mengalir seperti mbedah (membelah) pasir. Bila kemarau datang, belahan itu menghilang dan seiring dengannya air laut datang membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama pantai menjadi Wedibedah (pasir yang terbelah).
Perubahan nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik. Suatu siang, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, si anjing bermaksud memakan landak laut itu tetapi si landak menghindar. Terjadilah sebuah perkelahian yang akhirnya dimenangkan si anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan si anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak.
Tak disangaka perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air laut.
bila kondisi tahun 1930 saja seperti yang dikatakan di atas, dapat diperkirakan kondisi ratusan tahun sebelumnya. Tentu sangat banyak organisme laut yang memanfaatkan bagian bawah karang yang kini menjadi gua dan wilayah yang kini menjadi daratan. Karenanya, banyak arkeolog percaya bahwa sebagai konsekuensi dari proses geologis yang ada, banyak organisme laut yang tertinggal dan kini tertimbun menjadi fosil. Soal fosil apa yang ditemukan, memang hingga kini belum banyak penelitian yang mengungkapkan.